PERJUANGAN KPPI KOTA MEDAN MEMBUAHKAN KEMENANGAN: SUMUR BOR AIR BERSIH UNTUK WARGA PESISIR BAGAN DELI

Tiga Tahun perjuangan perempuan pesisir, melahirkan harapan baru bagi 200 keluarga. Namun, perjuangan belum selesai sampai air bersih benar-benar mengalir ke rumah-rumah warga. Air Bersih Bukan sebuah kemewahan, melainkan hak yang harus diperjuangkan.

Di tengah hirup  pikuknya kehidupan warga pesisir Bagan Deli, Medan Belawan, Sumatera Utara, untuk mendapatkan

air bersih bukanlah perkara mudah. Selama bertahun-tahun, warga harus menghadapi kenyataan pahit: hidup berdampingan dengan laut, tetapi kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah sebuah cerita panjang bagi warga nelayan di Badan Deli.

Bagi sebagian orang, membuka keran dan mendapatkan air bersih mungkin merupakan hal biasa. Namun, bagi warga pesisir Bagan Deli, air bersih adalah kebutuhan dasar yang harus diperoleh dengan pengorbanan, baik tenaga, waktu, maupun biaya.

Kondisi ini terutama dirasakan oleh perempuan pesisir yang sehari-hari bertanggung jawab unutk memikul beban besar tersebut dalam mengurus kebutuhan rumah tangga nelayan, memastikan ketersediaan air bersih untuk memasak, mencuci, mandi, menjaga kebersihan keluarga, sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi untuk menopang kehidupan.

Ketika air bersih sulit diperoleh, perempuan menjadi kelompok yang menanggung beban berlapis. Mereka bukan hanya harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan air keluarga, tetapi juga menghadapi bertambahnya pengeluaran rumah tangga di tengah kondisi ekonomi warga nelayan yang tidak cukup dan tidak menentu.

Namun, perempuan pesisir Bagan Deli memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Mereka berkumpul, bernegosiasi, berkolaborasi dan berorganisasi, menyuarakan beragam kebtuhan dan persoalan yang mereka hadapi, membangun solidaritas, dan memperjuangkan perubahan bersama.

Tiga Tahun Mengorganisasikan Harapan dan Memperjuangkan Hak atas Air Bersih.

Selama tiga tahun, Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Medan bersama PRIMA terus memperjuangkan akses air bersih bagi masyarakat pesisir Bagan Deli.

Perjuangan ini bukan sekadar upaya menghadirkan sebuah bangunan infrastruktur. Lebih dari itu, perjuangan ini lahir dari kesadaran bahwa akses terhadap air bersih merupakan hak dasar masyarakat yang harus dipenuhi, dilindungi, diamankan termasuk bagi mereka yang hidup di kampung-kampung pesisir.

Melalui pengorganisasian, penyampaian aspirasi, membangun komunikasi, serta memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, perempuan pesisir terus menjaga agar persoalan air bersih tidak berhenti sebagai keluhan sehari-hari, melainkan menjadi agenda bersama yang harus mendapatkan penyelesaian dan jalan keluar dari kebutuhan akan sulitnya mengakses air bersih.

Perjalanan selama tiga tahun tentu bukan waktu yang singkat. Di baliknya ada ketekunan, kesabaran, solidaritas, dan keyakinan bahwa perubahan dapat diperjuangkan ketika masyarakat bersatu dan memiliki kekuatan kolektif dalam ikatan organisasi.

Hingga akhirnya, pada 13 Agustus 2026, perjuangan panjang tersebut membuahkan hasil.

Sebuah sumur bor air bersih di kawasan pesisir Bagan Deli, Medan Belawan, resmi diluncurkan sebagai hasil kolaborasi antara PRIMA–KPPI Medan, Pelindo Peduli, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Hari itu bukan sekadar peresmian fasilitas air bersih. Bagi perempuan pesisir yang telah memperjuangkannya selama tiga tahun, momentum tersebut menjadi penanda bahwa suara masyarakat yang terus diperjuangkan secara kolektif dapat menghasilkan perubahan nyata.

Kemenangan ini membuktikan bahwa perempuan pesisir bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan penggerak perubahan yang mampu memperjuangkan hak dan kebutuhan komunitasnya.

Satu Sumur Bor, Harapan Baru bagi 200 Keluarga

Pembangunan satu titik sumur bor ini diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 200 kepala keluarga (KK) di kawasan Kampung Pesisir, Bagan Deli.

Bagi warga, kehadiran fasilitas tersebut membuka harapan untuk mengurangi ketergantungan pada pembelian air bersih yang selama ini membebani pengeluaran rumah tangga.

Salah seorang warga Bagan Deli, Bu Any, menggambarkan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan keluarga untuk mendapatkan air bersih.

“Sebelum adanya fasilitas sumur bor ini, kami harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk membeli air bersih. Pengeluaran bisa mencapai Rp20.000 per hari hanya untuk air.” – Bu Any, Warga Bagan Deli

Jika dihitung selama satu bulan, pengeluaran untuk membeli air dapat mencapai sekitar Rp600.000 bagi keluarga yang menghabiskan Rp20.000 setiap hari. Jumlah tersebut tentu sangat berarti bagi keluarga nelayan yang penghasilannya bergantung pada hasil tangkapan, musim, dan kondisi cuaca yang tidak jelas menjadi beban tersendiri bagi mereka untuk menghadirkan haknya atas air bersih.

Dengan tersedianya sumber air bersih yang dapat diakses secara layak, warga diharapkan dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga, meningkatkan kebersihan dan sanitasi, serta menekan risiko penyakit yang berkaitan dengan penggunaan air tidak layak.

Bagi perempuan pesisir, perubahan ini juga memiliki arti yang lebih luas. Kemudahan memperoleh air bersih dapat mengurangi beban pekerjaan domestik, menghemat waktu dan tenaga, serta memberikan ruang lebih besar bagi perempuan untuk menjalankan aktivitas produktif, berorganisasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Sebab, ketika akses air bersih terpenuhi, yang berubah bukan hanya kondisi rumah tangga, tetapi juga kesempatan perempuan untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat, layak, dan bermartabat.

Di Tengah Kemajuan Pembangunan, Mengapa Masyarakat Pesisir Masih Kesulitan Air Bersih?

Keberhasilan perjuangan KPPI Kota Medan juga mengingatkan kita pada persoalan yang lebih besar: ketimpangan pembangunan dan pemenuhan kebutuhan dasar di kampung-kampung pesisir.

Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan, mengingatkan bahwa persoalan serupa masih banyak ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia.

Di tengah pembicaraan mengenai kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur, ekonomi biru, dan pengelolaan sumber daya kelautan, masih terdapat masyarakat pesisir yang harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan air bersih.

Kenyataan ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pembangunan wilayah pesisir. Masyarakat yang hidup di sekitar sumber daya laut dan turut menopang perekonomian perikanan justru masih menghadapi keterbatasan layanan dasar yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara.

Karena itu, perjuangan akses air bersih di Bagan Deli tidak dapat dipandang semata-mata sebagai keberhasilan pembangunan satu titik sumur bor.

Perjuangan ini merupakan bagian dari upaya menuntut keadilan pembangunan bagi masyarakat pesisir, agar mereka tidak terus-menerus tertinggal dalam pemenuhan hak-hak dasarnya.

Kemenangan Pertama Telah Diraih, tetapi Perjuangan Belum Selesai

Meski sumur bor telah diresmikan, perjuangan masyarakat Bagan Deli belum sepenuhnya selesai. Masih ada pekerjaan penting yang harus segera dituntaskan, yaitu pemasangan jaringan pipa distribusi air menuju rumah-rumah warga.

Tanpa jaringan distribusi yang memadai, keberadaan sumur bor belum dapat sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Air bersih tidak boleh hanya tersedia di satu titik, tetapi harus dapat dijangkau dan dimanfaatkan oleh keluarga-keluarga yang membutuhkannya.

Karena itu, KPPI Kota Medan bersama masyarakat dan para pihak perlu terus mengawal kelanjutan pembangunan fasilitas tersebut, termasuk memastikan adanya pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan.

Perjuangan ini juga menjadi bagian dari agenda yang lebih luas untuk mendorong akses WASH (Water, Sanitation and Hygiene) atau air bersih, sanitasi, dan kebersihan yang layak di kampung-kampung pesisir. Persoalan air bersih tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sampah, kondisi sanitasi lingkungan, kesehatan masyarakat, serta perlindungan ruang hidup warga pesisir. Artinya, satu sumur bor adalah langkah penting, tetapi bukan akhir dari perjuangan. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika air bersih benar-benar mengalir ke rumah-rumah warga, dapat diakses secara adil, dikelola secara berkelanjutan, dan tidak lagi menjadi beban berat bagi kehidupan perempuan dan keluarga nelayan.

Dari Bagan Deli, Perempuan Pesisir Membuktikan Kekuatan Gerakan Kolektif

Perjuangan tiga tahun KPPI Kota Medan memberikan pelajaran penting bahwa perubahan tidak selalu datang dengan sendirinya. Perubahan lahir dari keberanian masyarakat untuk bersuara, membangun organisasi, memperkuat solidaritas, dan terus memperjuangkan hak-haknya.

Kemenangan ini juga memperlihatkan bahwa ketika perempuan pesisir memiliki ruang untuk berorganisasi dan terlibat dalam pengambilan keputusan, mereka mampu mendorong perubahan yang manfaatnya dirasakan oleh seluruh komunitas.

Kolaborasi antara PRIMA–KPPI Medan, Pelindo Peduli, KNTI, dan PKBI menjadi bagian penting dalam mewujudkan fasilitas air bersih tersebut. Namun, di balik keberhasilan ini, ada perjuangan panjang perempuan dan masyarakat pesisir yang terus menjaga harapan agar kebutuhan dasar mereka tidak diabaikan.

Bagi KPPI, keberhasilan ini bukan hanya tentang hadirnya satu sumur bor. Ini adalah bukti bahwa pengorganisasian perempuan pesisir memiliki kekuatan untuk memperjuangkan keadilan, memperbaiki kondisi kehidupan, dan mendorong tanggung jawab berbagai pihak terhadap pemenuhan hak masyarakat.

Dari Bagan Deli, kita belajar bahwa perjuangan atas air bersih adalah perjuangan atas kehidupan, kesehatan, martabat, dan masa depan generasi pesisir.

Tiga tahun berjuang, satu kemenangan diraih, dan perjuangan untuk kehidupan yang lebih layak harus terus dilanjutkan.

Air Bersih adalah Hak, Bukan Kemewahan!

Perempuan Pesisir Bergerak, Hak Masyarakat Diperjuangkan!

Bagan Deli Menuju Merdeka Air Bersih — Dari Kampung, untuk Kehidupan yang Lebih Adil dan Bermartabat.

Penulis : Nurul Hidayah Amd.A.B