“Bagi kami KPPI, data ini bukan sekadar angka. Ini adalah cerita hidup warga pesisir yang mereka perjuangkan, memastikan bahwa setiap keluarga memiliki akses sanitasi yang layak, aman, dan bermartabat” Jihan Nafisah, anggota KPPI Kota Surabaya
Setelah menyusun laporan, KPPI menyampaikan hasil pendataan kepada pemerintah Kelurahan. Namun, alih-alih langsung menerima, pihak kelurahan meragukan kebenaran data tersebut. Alasannya wajar: Surabaya sudah bersertifikat bebas ODF. Pemerintah juga telah membangun berbagai fasilitas sanitasi komunal. Karena itu, mereka menganggap seharusnya tidak ada lagi warga yang tidak memiliki MCK.
KPPI kemudian menyelenggarakan Community Action Plan (CAP) forum yang mempertemukan perempuan pesisir, tokoh masyarakat, perwakilan KNTI, dan pihak kelurahan untuk membahas rencana pembangunan berbasis kebutuhan warga. Dalam proses penyusunan CAP dan Rembug Perempuan inilah KPPI menunjukkan, kedalaman pendataan, mekanisme survei lapangan yang transparan, dan urgensi masalah sanitasi yang dialami warga
KPPI juga mengundang Lurah Kedung Cowek serta Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Diskusi berkembang menjadi ruang belajar bersama tentang bagaimana isu sanitasi masih menyisakan kantong-kantong permasalahan meski kota sudah mendapat status ODF.
Perlahan namun pasti, pihak kelurahan mulai memahami bahwa data yang dibawa KPPI valid dan penting ditindaklanjuti dan setelah melalui serangakaian dialog dan verifikasi, pihak kelurahan akhirnya menerima hasil pendataan KPPI, kemudian melakukan pendataan bersama puskesmas dengan melibatkan KPPI untuk mengusulkan warga yang tidak memiliki MCK ke BAZNAS Kota Surabaya.

Setelah pendataan dan penyampaian usulan, harapan tersebut akhirnya terwujud. BAZNAS Kota Surabaya mulai memberikan bantuan pembangunan MCK Sehat bagi warga Cumpat dan Nambangan yang membutuhkan. “ini bukan hanya pembangunan fisik – melainkan simbol kemenangan perjuangan komunitas perempuan pesisir” Avivah, Ketua KPPI Kota Surabaya.
Melalui bantuan pembangunan MCK sehat ini, diharapkan akan membawa dampak langsung bagi kualitas kesehatan dan kesejahteraan waga, keluarga kini memiliki tempat aman, bersih, dan layak untuk mandi dan buang air, dan tentunya risiko lingkungan tercemar akan berkurang. Perempuan dan anak, yang paling terdampak oleh sanitasi buruk, kini memiliki ruang yang lebih aman.
Ketika perempuan bergerak, perubahan nyata terjadi, proses advokasi ini menunjukkan bahwa, data yang dikumpulkan dari bawah sangat kuat untuk mendorong kebijakan, organisasi perempuan dapat memainkan peran penting dalam advokasi pembangunan, pemerintah dan komunitas dapat berkerja bersama jika difasilitasi dengan dialog yang tepat.
Penulis : Riza Puspita Sari

