Ketika pelayanan publik dijanjikan sebagai hak setiap warga, perempuan di desa-desa justru sering merasakan betapa panjang dan terjal jalan menuju keadilan. Air bersih yang semestinya mudah dijangkau, pengelolaan sampah yang seharusnya menjadi layanan dasar, hingga ruang aman untuk menyampaikan aspirasi—semuanya masih kerap terasa jauh dari jangkauan.
Dalam edisi terbaru Surat dari Dayah, kita diajak mendengar suara dari Lombok Timur, tempat perempuan berbagi cerita tentang saluran air yang tersumbat, tumpukan sampah yang tak tertangani, hingga laporan-laporan yang mereka kirimkan demi memperbaiki hidup banyak orang. Dari sana mengalir kisah tentang nyali yang diuji, tekanan yang datang dari struktur kekuasaan, dan keberanian seorang perempuan yang memilih berpihak pada masyarakat meski harus kehilangan posisinya.
Lewat surat ini, yang kita baca bukan hanya tentang sampah dan sanitasi, tetapi tentang keadilan ruang—tentang hak perempuan untuk bicara, untuk didengar, dan untuk melindungi lingkungan tempat mereka membesarkan anak-anak. Ini adalah kisah tentang bagaimana perempuan desa bertahan dan melawan, agar pelayanan publik benar-benar melayani publik.
Baca selengkapnya di bawah ini, dan rasakan bagaimana suara dari desa-desa Lombok Timur memanggil kita untuk tetap waspada dan tidak tinggal diam, ketika perempuan yang memperjuangkan kehidupan justru dihadapkan pada ancaman.

