Dari Semarang hingga Lombok, suara perempuan pesisir menggema memperjuangkan hak atas lingkungan bersih dan sanitasi yang layak. Cerita-cerita mereka bukan hanya keluhan, tetapi seruan untuk perubahan yang nyata. Perjuangan mereka mencerminkan beban berlapis yang harus dihadapi perempuan pesisir, baik sebagai tulang punggung keluarga maupun penjaga lingkungan.
Semarang: Sampah dan Air yang Mengancam Kehidupan
Sutiah, warga Tambak Rejo, Semarang, mengisahkan kondisi memilukan di desanya. Sejak 2017, tanah kosong di Tambak Rejo berubah menjadi tempat pembuangan sementara (TPS) yang mencemari lingkungan. Sampah dari desa dan wilayah luar terus menumpuk, menyebabkan dampak buruk pada ekosistem laut di dekatnya. Ketika rob besar melanda, sampah mengalir ke pemukiman, menyumbat drainase, dan memperburuk kondisi sanitasi.
Warga terpaksa menggunakan air artesis (air tanah dalam) untuk kebutuhan harian, meski kualitasnya buruk dan mengandung bakteri. Ironisnya, penggunaan air artesis ini juga mempercepat penurunan tanah hingga 15 cm per tahun. Meski pemerintah telah melarang pembuangan sampah di lokasi ini, upaya tersebut belum cukup untuk mengatasi masalah yang telah mendarah daging. Sutiah dan perempuan lainnya di Tambak Rejo harus mengelola rumah tangga di tengah ancaman air kotor, tumpukan sampah, dan banjir rob yang semakin parah.
Bangkalan: Sampah Menyusutkan Hasil Laut
Maysaroh dari Desa Kwanyar, Bangkalan, menceritakan pengalaman pahit nelayan di desanya. Tumpukan sampah di pesisir membuat hasil tangkapan laut menurun drastis. Banyak nelayan lebih sering menangkap sampah daripada ikan. Kondisi ini berdampak buruk pada ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada hasil laut.
Sebagai istri nelayan, Maysaroh juga harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga di tengah pendapatan yang terus menyusut. Selain itu, sampah memicu masalah kesehatan seperti penyakit akibat nyamuk dan lingkungan yang kumuh. Namun, perempuan di Kwanyar tidak tinggal diam. Dengan dukungan Komunitas Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) dan pemerintah desa, mereka mulai merancang Peraturan Desa (Perdes) tentang pengelolaan sampah. Harapannya, ada sanksi tegas bagi pelanggar agar kebersihan lingkungan lebih terjaga. Langkah ini juga menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk mengambil tindakan nyata.
Medan: Harapan Baru di Bagan Deli
Di Bagan Deli, Medan, masalah sanitasi dan air bersih menjadi isu krusial. Banyak warga masih menggunakan WC cemplung karena tidak ada septik tank yang memadai. Air bersih yang tersedia juga belum memenuhi standar layak konsumsi. Akibatnya, perempuan di Bagan Deli sering kali harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih atau menggunakan air yang kualitasnya buruk untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, ada harapan.
Pemerintah Kota Medan merencanakan pembangunan 10 sumur bor dan MCK pada tahun 2025 dengan dana dari APBD atau CSR. Rencana ini menjadi angin segar bagi warga yang telah lama mendambakan akses sanitasi dan air bersih yang layak. Di tengah keterbatasan, perempuan seperti Rina, seorang ibu rumah tangga di Bagan Deli, terus mendorong partisipasi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menuntut hak atas fasilitas dasar dari pemerintah.
Lombok: Menghadapi Kekeringan dan Sampah di Pesisir
Di Lombok Timur, perempuan pesisir yang tergabung dalam KPPI Lombok Timur menghadapi tantangan besar lainnya. Kekeringan yang berkepanjangan membuat akses air bersih menjadi semakin sulit. Selain itu, sanitasi buruk dan tumpukan sampah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Perempuan seperti Sri Wahyu, seorang pemimpin komunitas, bekerja keras mendidik masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan. KPPI Lombok Timur juga mendorong pelatihan pengolahan hasil laut seperti kerupuk cangkang kepiting dan dodol rumput laut untuk meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan. Meski begitu, beban mereka semakin berat karena harus mengurus keluarga, mencari air bersih, sekaligus memperjuangkan lingkungan yang lebih baik.
Beban Berlapis Perempuan Pesisir.
Perempuan pesisir tidak hanya menghadapi tantangan lingkungan, tetapi juga beban sosial dan ekonomi yang berlapis. Mereka harus mengelola rumah tangga di tengah ancaman rob, sampah, dan krisis air bersih. Selain itu, mereka juga menjadi tumpuan ekonomi keluarga, baik melalui pengolahan hasil laut maupun kerja serabutan lainnya.
Namun, di balik beban tersebut, semangat juang mereka tidak pernah surut. Dengan dukungan komunitas seperti KPPI, perempuan pesisir menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari tindakan kecil yang penuh tekad. Mereka adalah penjaga garis depan dalam melindungi lingkungan, memperjuangkan sanitasi yang layak, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

