Teruntuk Perempuan Nelayan yang Saya Cintai
Salam hangat!
Apa kabar, sahabat-sahabatku? Semoga kalian semua dalam keadaan baik dan penuh semangat di tengah segala tantangan yang kita hadapi. Mari kita renungkan sejenak: bagaimana kondisi kalian saat ini? Apakah kalian telah menjalani rutinitas harian di rumah, di dapur, serta mengurus anak-anak dan suami?
Dengan bangga, saya menyampaikan bahwa surat ini adalah edisi perdana dari Surat dari Dayah. DAYAH, Suara Perempuan Pesisir adalah kabar berkala dari Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI). DAYAH adalah tempat bagi perempuan nelayan untuk bercakap tentang keseharian. Nama “Dayah” diambil dari sosok perempuan terindah di segara yang kini berumah di surga. Meskipun dia bukan nelayan, dia setia melayani pengetahuan, belajar, dan menemani perempuan nelayan bersama KNTI. Energi Dayah menginspirasi kami untuk tumbuh dan merawat perjuangan perempuan nelayan. Melalui surat ini, kami mengabadikan semangatmu.
Dalam surat perdana ini, saya ingin berbagi dan mendengarkan cerita kalian. Bagaimana perjuangan kalian dalam mencari nafkah? Apakah kalian masih aktif memilah, mengangkut, menjual, dan mengolah ikan, atau bekerja yang lainnya? Dan, seberapa besar dampak perubahan iklim bagi kehidupan kalian sebagai perempuan nelayan?
Kita semua tahu, perubahan iklim bukanlah isu yang jauh. Musim hujan yang tidak menentu, rob yang semakin sering, dan air yang merusak rumah kita—ini semua adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Seberapa sering kalian harus berjuang ekstra untuk menjaga rumah dan keluarga? Saat rob datang, siapa yang berpikir untuk melindungi alat tangkap dan memastikan anak-anak tetap bisa sekolah? Tentu saja, kalian!
Lewat surat ini, saya ingin berbagi cerita dari sahabat kita, Jihan, dan Ibu Wahyuni. Cerita mereka mengingatkan kita semua akan perjuangan dan ketahanan kita sebagai perempuan nelayan.
Jihan, perempuan nelayan dari Surabaya, bercerita ketika angin besar menyebabkan banyak atap rumah yang rusak. Dia menggambarkan momen itu dengan jelas, “Setiap tahun, kami harus mengganti atap, dan bantuan pemerintah sering kali tidak tepat guna. seharusnya pemerintah memberikan bantuan genting akan tetapi setiap tahunnya bantuan yang diberikan berupa hasbis , sehingga setiap angin besar mengalami kerusakan lagi. Rasanya berat, terutama saat melihat anak-anak membutuhkan tempat yang aman untuk berteduh. Apakah kita tidak layak mendapatkan perlindungan yang lebih baik?”
Dari cerita Jihan, saya teringat pada Ibu Wahyuni, perempuan nelayan di Pemalang. Ketika suaminya tidak bisa melaut, Ibu Wahyuni harus berjuang mencari pekerjaan lain. Dia mengungkapkan, “Saat musim angin besar tiba, banyak nelayan laki-laki menganggur, dan sementara itu, kami para perempuan tetap berusaha keras menjaga kehidupan. Apakah ini tidak adil?”
Mendengar pengalaman mereka, saya jadi berpikir: bagaimana kita bisa saling membantu dan memperkuat satu sama lain? Jihan dan Ibu Wahyuni sepakat untuk bergabung dalam koperasi nelayan, agar kita bisa menciptakan program simpan pinjam untuk saling mendukung dan mengatasi masalah ekonomi.
Setiap cerita kalian sangat berharga. Bagikan pengalaman dan tantangan yang kalian hadapi. Apakah kita akan terus diam, atau kita akan berdiri bersama dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik?
Inilah saatnya untuk bersuara! Perempuan nelayan, kita adalah kekuatan yang tak terhentikan. Bersama, kita bisa merubah keadaan.
Peluk hangat dari pesisir,

