Di pesisir Tangerang, Rosita menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja kerang. Ia bersama perempuan nelayan lain di KPPI Tangerang setiap pagi mengupas kerang hijau, menetrik kerang, dan membereskan jaring. Dari tangan-tangan mereka, hasil laut yang keras dan berlendir itu menjadi sumber penghidupan bagi keluarga.
Namun, di balik keseharian itu, gelombang tantangan kian besar. Perubahan iklim membuat cuaca sulit ditebak, pagi yang cerah bisa berubah jadi hujan lebat dan angin kencang. “Dulu, bawa bensin 5 liter sudah bisa dapat ikan. Sekarang harus 10 liter, itu pun kalau anginnya bagus,” tutur Rosita.
Proyek reklamasi dan pembangunan besar seperti PIK 2 juga memperparah keadaan. Laut yang dulu mudah dijangkau kini makin jauh, sementara kerang hijau yang menjadi andalan perempuan pesisir semakin kecil bahkan kosong. “Dulu kerang isinya besar-besar, sekarang banyak yang kosong,” keluh Rosita.
Meski hidup di tengah ketidakpastian laut dan angin, Rosita dan perempuan KPPI Tangerang tak berhenti berjuang. Mereka tetap bekerja, belajar, dan berjejaring bersama FITRA, memperkuat pengetahuan tentang ekonomi dan lingkungan. Bagi mereka, menjaga laut berarti menjaga kehidupan — bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

