Perempuan Nelayan Bersuara di Musrenbang: Langkah Kecil dari Pesisir Utara Medan

Tahun 2025–2026, arah pembangunan Kota Medan mulai menoleh ke arah utara. Wilayah pesisir yang selama ini seolah terlupakan akhirnya masuk dalam skala prioritas pembangunan. Melalui pra-Musrenbang yang digelar Pemerintah Kota Medan, terungkap bahwa fokus pembangunan akan diarahkan ke wilayah Medan Utara—termasuk Kecamatan Medan Belawan—dengan perhatian khusus pada sanitasi, air bersih, dan pengelolaan sampah. Seluruh program ini rencananya akan didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sebagaimana diusulkan oleh DPRD.

Namun suara perubahan tidak hanya datang dari ruang-ruang formal pemerintahan. Di balik proses itu, ada sekelompok perempuan yang tak gentar menyuarakan kebutuhan komunitas mereka—di antaranya adalah Nilawati, perempuan nelayan dari Kampung Deli Lorong Ujung Tanjung, Medan Belawan.

Kampung Tertinggal di Tengah Kota

Kampung tempat tinggal Nilawati adalah salah satu wilayah paling unik di Medan. Terletak di perbatasan Kabupaten Deli Serdang, kampung ini tidak memiliki garis pantai meski sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari laut. Di tengah kota besar, mereka hidup dalam kondisi infrastruktur yang memprihatinkan, dengan akses air bersih yang minim, pengelolaan sampah yang buruk, dan kualitas hidup yang jauh dari layak.

Nilawati bukan hanya mencari kerang atau memasarkan hasil tangkapan. Ia juga aktif membangun solidaritas komunitasnya—terutama sesama perempuan—untuk menuntut hak-hak dasar mereka. Di tengah gempuran perubahan iklim dan tekanan ekonomi, banyak perempuan di kampung ini menjadi tulang punggung keluarga. Tak sedikit pula dari mereka yang menjadi kepala keluarga tunggal.

Dalam kondisi itu, suara mereka sering kali tak terdengar dalam proses perencanaan pembangunan. Namun kehadiran KPPI membuka ruang baru bagi mereka untuk bersuara.

Dari Audiensi ke Aksi Nyata

Dalam kurun waktu setahun terakhir, KPPI Medan bersama jaringan NGO, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil lainnya membentuk koalisi daerah (nama resmi koalisi masih dalam proses finalisasi). Didampingi oleh Tim Asistensi dari FITRA Sumut, mereka telah melakukan tiga kali audiensi dengan Pemerintah Kota.

Proses ini membuahkan hasil manis. Pada pertemuan ketiga, KPPI Medan secara langsung diundang oleh Bappeda dan dipertemukan dengan berbagai OPD terkait. Bahkan, mereka telah resmi dilibatkan dalam forum RKPD dan RPJMD Kota Medan. Dua proposal penting yang mereka ajukan—terkait pengelolaan sampah dan akses air bersih—mendapat respons positif.

Sebagai bentuk konkret dari komitmen pemerintah, telah disepakati bahwa akan dibangun 10 titik sumur bor di 3 kelurahan, yang ditargetkan akan menjangkau 1.000 penerima manfaat. Selain itu, proposal KPPI yang disampaikan ke Bappeda juga telah diajukan ke program CSR Pelindo, dan rencananya akan mulai direalisasikan pada 2025.

Mengakar dari Budaya dan Alam

Bagi Nilawati, perjuangan bukan hanya soal infrastruktur. Ia juga percaya bahwa kekuatan komunitas terletak pada budayanya. Kampungnya rutin mengadakan ritual adat tolak bala”, sebuah tradisi untuk memohon keselamatan dan keberkahan. Ia kini tengah mengupayakan agar generasi muda mau terlibat aktif dalam upacara ini. Baginya, pelestarian budaya bukan hanya menjaga identitas, tapi juga membangun solidaritas sosial di tengah gempuran modernisasi.

Selain itu, perempuan nelayan juga berperan penting dalam menjaga lingkungan. Mereka berupaya mencegah pembuangan sampah ke laut, merawat ekosistem, dan mengedukasi anak-anak mereka agar lebih peduli terhadap alam. Menurut data SAHdaR kawasan Medan Belawan termasuk wilayah yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim dan polusi laut, terutama dari sampah plastik.

Mendorong Perubahan dari Akar Rumput

Perjalanan KPPI Medan adalah bukti bahwa partisipasi warga, terutama kelompok yang selama ini terpinggirkan, mampu membawa perubahan. Suara perempuan nelayan kini tidak lagi terabaikan dalam forum-forum perencanaan. Mereka tidak sekadar “dilibatkan” secara simbolik, tetapi betul-betul menentukan arah pembangunan yang sesuai kebutuhan riil di lapangan.

Langkah ini masih panjang, tapi setiap titik air bersih yang kelak mengalir, setiap tumpukan sampah yang berhasil terkelola, dan setiap tradisi yang tetap lestari adalah jejak nyata perjuangan mereka.

Leave a Reply